Monday, July 21, 2014

Khunjerab Pass - Silk Road Part 3


Malam itu ada kabar baik datang dari pemilik hostel bahwa ada 4 orang tamu ingin ke Khunjerab Pass. Jika saya berminat untuk bergabung bersama mereka, trip ini akan diberangkatkan besok pagi dengan membagi rata biaya sewa mobil selama 2 hari, sedangkan soal makan dan masalah akomodasi menjadi tanggung jawab masing-masing. Tentu kesempatan yang langka ini tidak akan disia-siakan, saya langsung menyambut baik penawaran ini.

Membayangkan perjalanan yang munculnya mendadak ini, destinasi yang tidak umum pula membuat hati saya seakan terbakar oleh semangat yang datang tiba-tiba. Bisa anda bayangkan untuk mendatangi perbatasan sebuah negara yang penuh konflik seperti Pakistan, bukan saja membuat saya tenggelam dalam perasaan exciting tetapi juga menimbulkan konflik batin yang tidak karuan. Hal ini terjadi setelah saya kembali ke dalam kamar dan berpikir lebih jernih soal keputusan yang baru saja diambil, antara semangat penjelajahan yang tinggi dan kegalauan atas ketidakpastian informasi mengenai keamanan di daerah perbatasan sebuah negara konflik.

Malam itu saya agak sulit untuk bisa tidur lelap, alasannya tidak sepenuhnya karena faktor kegalauan itu tetapi juga karena ada beberapa tamu yang baru tiba tengah malam sehingga agak terganggu. Maklum saya tidur di sebuah dormitory berisi 8 tempat tidur yang terdiri dari 4 buah ranjang tingkat. Selelap apapun anda tidur pasti akan terbangun saat ada seseorang naik ke tingkat atas dari tempat tidur anda.  Apalagi rata-rata tamu berasal dari negara Eropa yang mempunyai berat badan yang sudah pasti membuat keguncangan pada kerangka tempat tidur yang terbuat dari kayu itu. Saya bisa maklum saja sebagai konsekuensi untuk menginap di hostel bukan hotel, karena tarifnya juga sesuai hanya 40 Yuan per malam atau setara Rp 75.000,-

Kashgar dan sekitarnya adalah daerah yang tandus. Di sepanjang perjalanan dari Kashgar menuju Tashkurgan jarang sekali menemukan sumber mata air maupun pepohonan hijau apalagi padang rumput. Jadi benar-benar gersang dan keadaannya diperparah lagi oleh suhu udara yang tinggi sehingga badan mudah mengalami dehidrasi jika tidak membawa bekal air minum yang cukup. Tiba-tiba ada pemeriksaan di tengah perjalanan. Semua penumpang diharuskan turun dari mobil tanpa terkecuali dan wajib memperlihatkan paspor. Keadaannya sedikit mencekam tetapi akhirnya baik-baik saja.
Tiba di kota Tashkurgan hari belum terlalu sore, kami memutuskan langsung menuju Khunjerab Pass. Setelah kembali dari border yang fenomenal ini kami baru akan mencarikan tempat buat bermalam. Bapak supir membawa kami menuju sebuah pos di depan jalan menuju Khunjerab Pass. Di pos keamanan itu semua paspor kami ditahan dan wajib membayar 10 Yuan per orang entah itu biaya administrasi, izin atau biaya pengawalan tidak jelas dan saya juga tidak sempat menanyakannya kala itu.

Mobil yang kami tumpangi segera meluncur di atas jalan yang akan membawa kami menuju Pakistan. Sebelum tiba di perbatasan kendaraan kami dicegat oleh tentara dari negara China. Setelah pengecekan kelengkapan dokumen, 2 orang tentara mengawal mobil kami hingga ke border. Kami hanya diberikan waktu sekitar 15 menit untuk berada di tempat itu. Udara dingin sekali dan badan saya mulai mengigil dibarengi sakit kepala dan sedikit sesak nafas akibat serangan mendadak altitude atau mountain sickness. Mengapa? karena border ini dikepung oleh barisan pegunungan es dan berada pada ketinggian di atas 5000m dpl. Jangankan mengeluh soal hanya diberikan waktu 15 menit, andaikan diberi waktu lebih lama juga tidak akan sanggup bertahan dan mungkin akan mati kaku, karena kami berlima tidak dilengkapi pakaian yang sesuai.


gerbang border di pihak Tashkurgan

patok perbatasan antara China dan Pakistan

pegunungan Karakoram

penginapan di Tashkurgan

Khunjerab Pass merupakan penyeberangan antar negara dengan letak geografinya tertinggi di dunia yakni berada pada ketinggian 4693 m dpl menurut beberapa sumber yang saya browsing lewat internet, namun berdasarkan pemantauan lewat GPRS saat berada di lokasi hasil menunjukkan ketinggian 5200 m dpl. Jadi entah mana informasi yang akurat. Khunjerab Pass berada di pegunungan Karakoram antara negara Pakistan dan Taskurgan. Keadaan di border ini sangat sepi, namun tidak mencekam sebagaimana yang saya khawatirkan pada malam sebelumnya.
Tashkurgan yang berbatasan langsung dengan Pakistan, Afganistan & Tajikistan merupakan sebuah kabupaten di propinsi Xinjiang China, juga merupakan kota untuk bermalam, sekaligus kota persinggahan terakhir bagi mereka yang ingin melanjutkan perjalanan ke Pakistan. Tashkurgan dalam bahasa Uyghur artinya menara batu, dan sisa-sisa reruntuhan menara batu pada masa lalu masih bisa ditemukan tidak jauh dari pemukiman yang modern saat ini.

reruntuhan kota tua

sisa-sisa tembok di menara batu

bagian dari menara batu

Masyarakat Tashkurgan mayoritas adalah berasal dari ethnis Tajik dan mereka beragama Islam. Bahasa yang mereka gunakan sehari-hari adalah bahasa Sarikoli, namun mereka juga fasih berbahasa Mandarin dan Uyghur. Secara umum kehidupan mereka sangat baik, tidak sebagaimana berita yang dilansir oleh media-media asing selama ini. Orang-orangnya sangat sopan dan ramah. Ketika saya meminta izin untuk mengambil foto kepada seorang gadis berbusana merah dengan dandanan yang unik di kepalanya, di luar dugaan dia menanggalkan cadarnya yang juga berwarna merah itu sambil menebar senyum.


                        
wanita Tashkurgan

anak-anak Tashkurgan

gadis cantik Tashkurgan dengan topi tradisional

pemuda Tashkurgan

ibu-ibu Tashkurgan dengan topi tradisional

Kota Tashkurgan terbilang kecil namun sangat bersih. Udaranya segar dan sejuk dengan langitnya yang biru dan jernih. Makanan di tempat ini juga bercita rasa pedas cocok dengan lidah kita, hanya sedikit sayang sulit menemukan menu nasi. Saya rasa makanan pokoknya mie juga tetapi entahlah barangkali ada makanan lain yang tidak sempat saya temukan dalam waktu yang sangat singkat itu.

salah satu sudut kota Tashkurgan

mie ayam ala Tashkurgan

nasi iga kambing, satu-satunya nasi yang saya temukan di kota ini




2 comments:

  1. WOW!!! superb mas!
    semoga saya bisa ke tempat ini juga :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks, semoga catatan perjalanan ini bermanfaat.

      Delete