Wednesday, June 3, 2015

Wae Rebo - A Village Dropped From Heaven




Once in a life time, anda memang layak berjuang untuk bisa sampai di tempat ini. Melihat sendiri, merasakan sendiri, berinteraksi dengan penduduk desa ini, tanpa televisi, tanpa gadget, tanpa internet, tanpa radio, tanpa berita, tanpa hiburan. Lalu merenungkannya saat tidur berjejer dengan tamu lainnya mengelilingi ruang berbentuk bundar itu, dan keesokan paginya anda boleh mengambil kesimpulan apa makna hidup ini yang sesungguhnya. 

Tiba di Dintor, sekitar pukul 8 malam. Pak Martin yang menyediakan homestay, berikut makan malam buat rombongan kami sudah lama menunggu. Begitu beliau melihat mobil kami berhenti di pinggir jalan, beliau segera menghampiri kami dan menggerakkan orang-orangnya untuk membantu kami dengan segala keperluannya.
Perjalanan yang cukup melelahkan. Tidak terasa hari itu kami menghabiskan waktu lebih dari 12 jam di jalan, mulai dari Bajawa hingga ke Dintor. Perjalanan yang sangat jauh memang, tetapi tentu waktu 12 jam ini diisi dengan acara mengunjungi Kampung Bena, makan siang di Borong, menikmati heningnya Danau Ranamese, dan short trekking untuk melihat Sawah Laba-laba di Ruteng. Semua agenda ini cukup menyenangkan sebenarnya, yang membuat setiap dari kami berasa sangat capek justru adalah beberapa ruas jalan yang rusak parah, bumpy road dalam perjalanan menuju Dintor. 

Setelah pembagian kamar dan menaruh backpack dan koper, kami langsung berkumpul untuk menyantap makan malam yang telah disusun rapi di atas meja yang terbuat dari beberapa lembar papan itu. Meski sangat lelah, dan rasanya ingin segera berbaring dan tidur, tetapi mengingat agenda kami besok pagi akan sangat menguras energi, saya mengharuskan semua anggota untuk makan yang banyak dan beristirahat yang cukup, supaya tenaga dapat pulih kembali, dan siap untuk melanjutkan perjalanan esok pagi. 






Keesokannya kami bangun pagi-pagi. Karena kelelahan di jalan, tidur semalaman terasa cukup lelap, sehingga pagi ini kondisi badan kembali pulih seperti sediakala. Sesuai rencana, tepat pukul 7.30 setelah sarapan, kami langsung diantar dengan kendaraan menuju Desa Kombo. Dari desa ini kami siap memulai tantangan kami yang terberat di sepanjang perjalanan kali ini.






Dari Desa Kombo menuju Desa Wae Rebo, jalur trekkingnya terdiri dari 7 km menanjak, 1 km mendatar dan 1 km menurun, total 9 km. Bagi yang sudah terbiasa dengan aktivitas luar rumah, track seperti ini tidaklah terlalu sulit dan hanya membutuhkan waktu sekitar 2 jam 30 menit untuk mencapai tempat tujuan. Namun bagi anda yang tidak terbiasa dengan aktivitas seperti ini, jalur ini terasa sangat berat, dan sudah pasti anda membutuhkan banyak istirahat di sepanjang trekking. Sehingga waktu yang anda butuhkan minimal 4 jam bahkan lebih untuk bisa mencapai desa yang terselubung, di sebuah dataran kecil, yang dikelilingi oleh pegunungan di sekitarnya.









Once in a life time, anda memang layak berjuang untuk bisa sampai di tempat ini. Melihat sendiri, merasakan sendiri, berinteraksi dengan penduduk desa ini, tanpa televisi, tanpa gadget, tanpa internet, tanpa radio, tanpa berita, tanpa hiburan. Lalu merenungkannya saat tidur berjejer dengan tamu lainnya mengelilingi ruang berbentuk bundar itu, dan keesokan paginya anda boleh mengambil kesimpulan apa makna hidup ini yang sesungguhnya, dan anda akan temukan jawaban betapa beruntungnya hidup anda, selama ini.

Tiba di Wae Rebo, kami langsung mengikuti upacara penerimaan tamu yang dipimpin oleh Ketua adat, Bapak Alex dan diterjemahkan oleh guide kami Bapak Martin. Upacara sederhana ini diisi dengan acara mendengarkan penuturan singkat tentang asal usul suku ini maupun desa Wae Rebo ini. Setelah upacara ini selesai kami diantar menuju Rumah Tamu, sebuah rumah yang dikosongkan khusus untuk tamu yang datang berkunjung dan menginap di sana. 







Bapak Alex, ketua Adat

Saya tahu anda pasti kaget dan bertanya-tanya, bagaimana mungkin sebuah desa yang begitu terpencil dengan segala keterbatasannya, dan untuk mencapainya saja harus trekking 4 jam, tetapi nama ketua Adatnya sangat modern. Ada Pak Alex, terus ada nama Pak Martin dan lain-lain. Jangan heran, karena mengingat warga desa ini seluruhnya adalah umat katolik sejak 3 generasi terakhir, sehingga tidak heran nama mereka kebarat-baratan, karena sebagai umat katolik setiap dari kami memiliki nama baptis.

Desa ini letaknya berada di ketinggian 1100m dpl, kecamatan Satarmese Barat, kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Meski berada pada ketinggian 1100m dpl, namun ketika kita melihat dari atas, desa ini seakan berada di tengah sebuah lembah. 



Keunikan dari desa Wae Rebo adalah rumah adatnya yang berjumlah hanya 7 unit itu. Rumah adat ini disebut Mbaru Niang. Keunikan Mbaru Niang bukan hanya terletak pada bentuknya yang kerucut tetapi juga dari segi arsitekturnya. Saya sampai terheran-heran bagaimana seorang nenek moyang suku Wae Rebo yang tidak pernah masuk ruang kelas sekolah, mampu mengembangkan ilmu arsitektur yang begitu hebat, hingga sangat dikagumi dan salut, baik oleh himpunan arsitek dari dalam negeri maupun luar negeri. 





















Meskipun tanpa sebatang paku pun, rumah adat ini terlihat kokoh. Setiap rumah dihuni oleh 6 hingga 8 keluarga dengan kamar yang disekat-sekat pada tingkat 1. Di tengah-tengah lantai pada tingkat 1 ini, terdapat sebuah dapur berbentuk empat persegi. Setiap keluarga yang tinggal di situ akan menggunakan dapur ini untuk memasak. Jadi tidak heran jika anda melihat foto Desa Wae Rebo, setiap rumah mengeluarkan asap yang mengepul. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana ruangan itu diselubungi asap tebal ketika 6 atau 8 keluarga memasak pada waktu yang bersamaan.







Pada tingkat 2, 3 hingga 5 dari setiap rumah, digunakan untuk menyimpan hasil panen, bibit maupun barang sesajen yang digunakan pada ritual atau upacara penyembahan para leluhur. 




Kebanyakan warga Wae Rebo, adalah petani kopi, kayu manis dan vanili. Hasil panennya akan dibawa ke desa Kombo setiap hari sabtu. Sekalian beribadah dengan mengikuti misa di gereja katolik di desa Kombo pada hari minggu paginya. Setelah menjual hasil panen, mereka lalu menukarkannya dengan membeli beras serta segala keperluan yang lainnya, dan kembali ke Wae Rebo pada hari minggu sore. Jadi orang Wae Rebo naik turun gunung selalu penuh dengan beban barang.

Berikut ini adalah foto-foto kesibukan di dapur umum dan menu makanan yang disajikan kepada tamu selama kami menginap berada di sana.














Udara di sini cukup dingin terlebih pada malam hari, ditambah dengan bahan atap yang terbuat dari daun ijuk dan rumput ilalang, suhu udara yang dingin sangat terasa hingga di dalam rumah. Jadi, pastikan anda membawa pakaian hangat.





Meski kebanyakan anak usia sekolah dari desa ini telah dititipkan di Desa Kombo, desa ini telah memiliki sebuah perpustakaan yang baru selesai dibangun di atas bukit. Bangunan ini dinamai "Taman Baca", rencananya diperuntukkan untuk anak-anak pra sekolah, maupun anak-anak sekolah yang pulang ke rumah saat musim libur sekolah tiba. Taman baca ini masih belum terisi, masih dalam tahap pengumpulan buku-buku. Dari tempat ini kita bisa melihat keseluruhan Desa Wae Rebo dari ketinggian, sangat takjub.








Di sela-sela kunjungan kali ini, saya menemukan seorang anak perempuan yang kakinya terluka, bengkak dan jalannya pincang. Sobekan lukanya selebar lebih dari 1 cm di dekat mata kaki kanan yang sudah mulai infeksi dan bernanah. Saya segera minta Pak Martin untuk menyediakan air panas beserta garam, dan membersihkan bagian luka dan daerah sekitarnya. Lalu saya oleskan dengan obat luka yang saya bawa dari Jakarta. Entah terharu atau rasa perih yang ia derita, tiba-tiba isak tangisnya pecah sambil memanggil mama mama. Oni, nama anak ini, kedua orangtuanya rupanya sedang bertani di Desa Kombo dan ia hanya dititipkan pada sanak keluarga yang masih tinggal di Wae Rebo. Badannya kurus dan tidak terawat, kasihan melihatnya. Keesokan paginya sebelum kembali ke Dintor, saya menyempatkan diri untuk melihatnya sekali lagi untuk oleskan obat pada luka itu dan mengganti plester.




Satu pesan dari Pak Martin, meskipun mereka hidup dalam kesederhanaan, mereka khawatir dan tidak ingin anak-anak Wae Rebo punya kebiasaan meminta-minta kepada setiap tamu yang datang. Beliau berharap jika ingin memberi sesuatu atau berbagi, berikan saja kepada para kaum ibu. Biarkan orang tua mereka yang membagikannya kepada anak-anak, jadi jangan pernah memberi secara langsung kepada anak-anak di sana.

Meskipun cukup melelahkan perjalanan saat menuju dan kembali dari Wae Rebo, namun ini benar-benar perjalanan yang menyenangkan. Tidak ada kata sesal yang terucap dari setiap anggota, bahkan kalau kita mau jujur, banyak pelajaran dan hikmat yang bisa dipetik dari kunjungan ini.







End

Flores Overland - From Ende to Labuan Bajo
http://johntravelonearth.blogspot.com/2015/06/flores-overland-from-ende-to-labuan-bajo.html

Komodo National Park - Part 1
http://johntravelonearth.blogspot.com/2015/06/komodo-national-park-around-part-1.html




2 comments:

  1. Selalu ada hal baru dlm membaca reportase perjalanan ko John. Menambah luas wawasan saya. Biarpun blm pernah ke Wae Rebo, seolah-olah seperti mengalaminya sendiri.

    Keep posting ko John. Sebarkan indahnya alam ciptaan Nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks sudah membaca, semoga bermanfaat ya. Rencananya besok saya akan publish catatan perjalanan ke Pulau Seram dan Saparua di Maluku Tengah. Siapa tahu dpt menginspirasi buat liburan panjang ini.

      sekali lagi terima kasih. Salam

      Delete